Untuk kamu yang gemar bermain dengan diam, ijinkan aku bicara melalui tulisan.
--
Aku mengenalmu sebagai perpaduan imajinasi dan logika.
Melebur larut dalam keseharian, mengisi sudut pikiran.
Kamu terlalu rumit seperti teka-teki dalam bentuk narasi.
Aksara demi aksara tidak bergerak menciptakan diksi.
Sulit dan selalu bertanya bagaimana cara untuk memahami.
Atau apakah harus dibiarkan tidak terselami?
Ibaratkanlah aku seperti kanvas kusam di ruangan, dan kamu serupa jelaga kehitaman.
Perpaduan itu menyelaraskan warna namun perlahan meresahkan nadanya.
Kamu itu berbeda.
Tidak seperti Andromeda, bahkan Orion tidak juga mengenal raga.
Kamu seperti batu yang tidak mengenal cahaya.
Melayang pada mega pikiran, membentur tembok perasaan.
Nelangsa.
Namun,
Terlepas dari tidak mudahnya aku menerka, kamu memberi aura berbeda.
Kenikmatan saat bersamamu menumbuhkan Ammophila tanda kehidupan.
Jelaga kehitamanmu membantuku melihat jejak yang tertelan.
Sekarang pergulatan itu seolah menjadi teman.
Kini, di antara warna yang monoton dengan terang, kamu memberikan hitam yang rupawan.
Warna yang menentramkan, meniadakan kelam.
Kerumitan dan semua teka-teki itu, perlahan membuka pikiran.
Mengubahnya menjadi nelangsa yang lain.
Nelangsa yang membuatku menginginkan lebih.
Karena bersamamu seolah menjadi keharusan yang hakiki.
Kamu membuatku hidup di dimensi bermuda.
Jauh dari mereka, namun tetap indah karena perpaduan antara resah dan rasa.
Rasa yang menciptakan asa.
Asa yang kunamakan cinta.
Cinta yang terwujud karena doa.
--
Gloria, 1 Desember 2016
--
Aku mengenalmu sebagai perpaduan imajinasi dan logika.
Melebur larut dalam keseharian, mengisi sudut pikiran.
Kamu terlalu rumit seperti teka-teki dalam bentuk narasi.
Aksara demi aksara tidak bergerak menciptakan diksi.
Sulit dan selalu bertanya bagaimana cara untuk memahami.
Atau apakah harus dibiarkan tidak terselami?
Ibaratkanlah aku seperti kanvas kusam di ruangan, dan kamu serupa jelaga kehitaman.
Perpaduan itu menyelaraskan warna namun perlahan meresahkan nadanya.
Kamu itu berbeda.
Tidak seperti Andromeda, bahkan Orion tidak juga mengenal raga.
Kamu seperti batu yang tidak mengenal cahaya.
Melayang pada mega pikiran, membentur tembok perasaan.
Nelangsa.
Namun,
Terlepas dari tidak mudahnya aku menerka, kamu memberi aura berbeda.
Kenikmatan saat bersamamu menumbuhkan Ammophila tanda kehidupan.
Jelaga kehitamanmu membantuku melihat jejak yang tertelan.
Sekarang pergulatan itu seolah menjadi teman.
Kini, di antara warna yang monoton dengan terang, kamu memberikan hitam yang rupawan.
Warna yang menentramkan, meniadakan kelam.
Kerumitan dan semua teka-teki itu, perlahan membuka pikiran.
Mengubahnya menjadi nelangsa yang lain.
Nelangsa yang membuatku menginginkan lebih.
Karena bersamamu seolah menjadi keharusan yang hakiki.
Kamu membuatku hidup di dimensi bermuda.
Jauh dari mereka, namun tetap indah karena perpaduan antara resah dan rasa.
Rasa yang menciptakan asa.
Asa yang kunamakan cinta.
Cinta yang terwujud karena doa.
--
Gloria, 1 Desember 2016
Comments
Post a Comment